Berita

←   Kembali ke daftar berita Sering Minum Kopi atau Teh Sangat Panas, Benarkah Bisa Memicu Kanker?

Sering Minum Kopi atau Teh Sangat Panas, Benarkah Bisa Memicu Kanker?

Bagi sebagian orang, secangkir kopi atau teh terasa paling nikmat ketika masih mengepul. Bahkan ada yang terbiasa langsung menyeruput minuman beberapa saat setelah diseduh.

Namun, kebiasaan mengonsumsi minuman dalam kondisi sangat panas kembali mendapat perhatian setelah sebuah penelitian besar menemukan kaitannya dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan atau kanker esofagus.

Apakah ini berarti kita harus berhenti minum kopi dan teh?

Tidak. Yang perlu diperhatikan terutama adalah suhunya, bukan semata-mata jenis minumannya.

Apa yang ditemukan penelitian terbaru?

Penelitian yang diterbitkan pada September 2026 dalam International Journal of Cancer menganalisis data dari sekitar 977.000 orang dewasa di Inggris, yang berasal dari dua kelompok penelitian besar, yaitu Million Women Study dan UK Biobank.

Para peneliti melihat kebiasaan minum teh dan kopi, termasuk seberapa sering minuman tersebut dikonsumsi dan apakah seseorang lebih menyukai minumannya dalam keadaan hangat, panas, atau sangat panas.

Hasilnya cukup menarik.

Orang yang terbiasa mengonsumsi minuman dalam kondisi “sangat panas” memiliki sekitar tiga kali risiko mengalami kanker esofagus tipe karsinoma sel skuamosa (squamous cell carcinoma/SCC) dibandingkan mereka yang memilih minuman hangat. Setelah memperhitungkan frekuensi konsumsi, risiko relatif yang dilaporkan sekitar 3,17 kali lebih tinggi.

Selain suhu, jumlah konsumsi juga tampaknya berperan. Mereka yang mengonsumsi enam atau lebih minuman panas per hari memiliki risiko SCC esofagus sekitar 71% lebih tinggi dibandingkan mereka yang minum kurang dari enam kali sehari, setelah memperhitungkan suhu minuman.

Menariknya, hubungan tersebut terutama terlihat pada karsinoma sel skuamosa esofagus, dan tidak ditemukan hubungan yang jelas dengan jenis kanker esofagus lainnya, yaitu adenokarsinoma.

Mengapa minuman yang terlalu panas bisa berbahaya?

Kerongkongan atau esofagus merupakan saluran yang membawa makanan dan minuman dari mulut menuju lambung.

Ketika kita berulang kali menelan cairan yang suhunya sangat tinggi, panas tersebut dapat menyebabkan cedera termal pada lapisan esofagus.

Bayangkan seperti kulit yang berulang kali terkena benda terlalu panas. Jaringan memang memiliki kemampuan memperbaiki diri, tetapi paparan panas yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan siklus cedera dan regenerasi sel berulang.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut diduga dapat menciptakan lingkungan yang mempermudah terjadinya perubahan sel yang berkontribusi terhadap kanker.

Mekanisme ini juga mempunyai dasar biologis. International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga penelitian kanker di bawah WHO, menyatakan bahwa terdapat hubungan yang masuk akal secara biologis antara minuman sangat panas, cedera sel esofagus, dan proses yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap kanker.

Jadi, apakah kopi dan teh menyebabkan kanker?

Bukan sesederhana itu.

Yang menjadi perhatian adalah temperatur minuman, bukan kopi atau teh itu sendiri.

IARC telah mengklasifikasikan konsumsi minuman dengan suhu di atas 65°C sebagai probably carcinogenic to humans atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia (Group 2A).

Klasifikasi ini tidak berarti setiap orang yang minum kopi panas pasti akan terkena kanker.

Kategori tersebut menunjukkan kekuatan bukti mengenai potensi menyebabkan kanker, bukan besarnya risiko seseorang secara individual. IARC sendiri menegaskan bahwa klasifikasi Group 2A tidak menunjukkan seberapa berbahaya suatu paparan atau berapa banyak paparan yang diperlukan sampai menyebabkan kanker.

Jadi tidak perlu langsung takut terhadap kopi atau teh.

Pesannya jauh lebih sederhana:

Nikmati kopinya, tetapi jangan terlalu panas.

Seberapa panas yang disebut “terlalu panas”?

IARC menggunakan suhu lebih dari 65°C untuk mendefinisikan minuman yang “sangat panas”.

Masalahnya, tentu kita tidak mungkin membawa termometer setiap kali ingin minum kopi.

Cara praktisnya adalah jangan langsung menyeruput minuman yang baru selesai diseduh. Biarkan beberapa saat hingga suhunya lebih nyaman di mulut.

Bila minuman terasa begitu panas hingga membuat mulut seperti terbakar atau memaksa kita menyeruput sangat sedikit karena tidak tahan panas, sebaiknya tunggu lebih lama.

Penelitian sebelumnya juga mendukung prinsip ini. Studi di Afrika menemukan bahwa risiko kanker esofagus meningkat pada orang yang lebih sering mengonsumsi makanan atau minuman sangat panas, menunggu kurang dari dua menit sebelum mengonsumsinya, atau sering mengalami sensasi terbakar di mulut akibat panas.

Apakah risikonya besar?

Ini bagian yang penting agar hasil penelitian tidak disalahartikan.

Angka “tiga kali lebih tinggi” merupakan risiko relatif, bukan berarti satu dari tiga orang yang minum kopi panas akan mengalami kanker.

Kanker esofagus tetap merupakan penyakit yang relatif jarang pada populasi umum. Medscape juga menekankan bahwa meskipun peningkatan risiko relatif terlihat dalam penelitian, risiko absolut pada masing-masing individu tetap rendah.

Selain itu, penelitian seperti ini bersifat observasional. Artinya, penelitian dapat menemukan hubungan antara kebiasaan tertentu dengan kejadian kanker, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa satu kebiasaan merupakan satu-satunya penyebab kanker pada seseorang.

Risiko kanker esofagus juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Jangan lupakan faktor risiko lainnya

Minuman yang sangat panas hanyalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Merokok dan konsumsi alkohol merupakan faktor risiko penting kanker esofagus, terutama karsinoma sel skuamosa. IARC juga menekankan bahwa keduanya merupakan penyebab utama kanker esofagus di banyak negara.

Karena itu, mengurangi suhu kopi tetapi tetap merokok tentu bukan strategi pencegahan kanker yang optimal.

Haruskah berhenti minum kopi atau teh?

Tidak perlu.

Bukti yang tersedia justru menunjukkan bahwa kita tidak perlu menghindari kopi atau teh semata-mata karena takut kanker esofagus.

Yang lebih masuk akal adalah mengubah cara kita menikmatinya:

  1. Jangan langsung minum kopi atau teh yang baru diseduh.
  2. Tunggu sampai suhunya cukup nyaman sebelum diminum.
  3. Hindari kebiasaan minum sampai mulut terasa terbakar.
  4. Bila terbiasa minum berkali-kali sehari, perhatikan suhu setiap cangkirnya.
  5. Hindari merokok dan batasi konsumsi alkohol karena keduanya merupakan faktor risiko kanker esofagus yang telah diketahui.

Perubahan tersebut sederhana dan tidak mengharuskan kita meninggalkan minuman favorit.

Kapan perlu memeriksakan diri?

Kanker esofagus pada tahap awal terkadang tidak menimbulkan keluhan yang khas. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah kesulitan menelan yang semakin memberat, misalnya awalnya sulit menelan makanan padat kemudian semakin sulit menelan makanan yang lebih lunak.

Keluhan lain dapat berupa penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nyeri atau rasa tidak nyaman saat menelan, nyeri dada, muntah berulang, atau suara serak yang menetap.

Gejala seperti ini tidak selalu berarti kanker, tetapi sebaiknya diperiksakan ke dokter apabila menetap atau semakin berat.

Kesimpulan

Penelitian terbaru terhadap hampir satu juta orang memberikan bukti tambahan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman pada suhu sangat panas berkaitan dengan peningkatan risiko kanker esofagus tipe karsinoma sel skuamosa.

Namun, temuan ini bukan alasan untuk takut minum kopi atau teh.

Pesan yang lebih tepat justru sangat sederhana:

Bukan kopinya yang perlu ditakuti. Bukan pula tehnya. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa panas kita meminumnya.

Membiarkan minuman mendingin sejenak sebelum diminum merupakan kebiasaan kecil yang mudah dilakukan dan berpotensi membantu menjaga kesehatan kerongkongan dalam jangka panjang.