Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Tanpa langkah pencegahan dan perbaikan layanan kesehatan yang serius, jumlah kasus baru diperkirakan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang.
Pada Juli 2026, World Health Organization (WHO) mengeluarkan peringatan penting mengenai meningkatnya beban kanker dunia. Saat ini diperkirakan terdapat 20,6 juta kasus kanker baru dan hampir 10 juta kematian akibat kanker setiap tahun. Tanpa tindakan yang memadai, jumlah kasus baru kanker diproyeksikan mencapai hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050.
Artinya, dalam waktu kurang dari tiga dekade, dunia dapat menghadapi peningkatan kasus kanker yang sangat besar. Namun, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap kasus terdapat pasien, keluarga, biaya pengobatan, kehilangan produktivitas, serta dampak psikologis yang tidak sedikit.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan demografi. Penduduk dunia semakin banyak dan semakin panjang usia harapan hidupnya. Karena risiko berbagai jenis kanker meningkat seiring bertambahnya usia, populasi yang menua juga berarti semakin banyak orang yang berisiko mengalami kanker.
Selain itu, pola hidup dan lingkungan ikut berperan. WHO melaporkan bahwa hampir 4 dari setiap 10 kasus kanker di dunia berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor tersebut antara lain penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, serta beberapa infeksi seperti HPV, hepatitis B dan C, dan Helicobacter pylori.
Polusi udara, pola makan tidak sehat, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik juga semakin mendapat perhatian karena dapat ikut membentuk pola kanker di masa mendatang.
Hal yang menjadi perhatian besar WHO adalah ketimpangan dalam pelayanan kanker.
Seseorang yang terkena kanker di negara berpenghasilan tinggi mempunyai peluang memperoleh skrining, diagnosis dini, obat, radioterapi, operasi, dan perawatan suportif yang jauh lebih baik dibandingkan pasien di banyak negara berpenghasilan rendah.
Contohnya terlihat pada kanker payudara. WHO melaporkan bahwa sekitar 87% perempuan dengan kanker payudara di negara berpenghasilan tinggi bertahan hidup setidaknya lima tahun setelah diagnosis, sedangkan di negara berpenghasilan rendah angkanya hanya sekitar 42%. Bahkan, kurang dari sepertiga negara di dunia saat ini memasukkan pelayanan kanker ke dalam paket universal health coverage mereka.
Kesenjangan juga terlihat pada obat. Ketersediaan 20 obat kanker prioritas di negara berpenghasilan rendah dan menengah-bawah dilaporkan hanya sekitar 9–54%, dibandingkan 68–94% di negara berpenghasilan tinggi.
Dengan kata lain, tantangan kanker bukan hanya bagaimana menemukan terapi yang semakin canggih, tetapi juga bagaimana memastikan terapi tersebut benar-benar dapat dijangkau oleh orang yang membutuhkannya.
Data WHO menunjukkan bahwa pada 2024, Asia menyumbang lebih dari separuh kasus kanker dunia (50,7%) dan 56,5% kematian akibat kanker. Besarnya angka tersebut sebagian berkaitan dengan jumlah penduduk Asia yang sangat besar.
Secara global, kanker paru masih menjadi penyebab kematian akibat kanker terbanyak. Pada laki-laki, kanker paru, prostat, dan kolorektal termasuk kanker yang paling sering ditemukan. Sementara pada perempuan, kanker payudara, paru, dan kolorektal memberikan beban yang besar.
Tidak semua kanker dapat dicegah. Faktor usia, genetik, dan berbagai mekanisme biologis juga berperan. Karena itu, memiliki pola hidup sehat bukan jaminan seseorang tidak akan pernah terkena kanker.
Namun, kita tetap dapat menurunkan risiko.
Berhenti atau tidak memulai merokok merupakan salah satu langkah terpenting. Aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan sehat, membatasi konsumsi alkohol, serta menjalani vaksinasi yang direkomendasikan—termasuk vaksin HPV dan hepatitis B—juga merupakan bagian penting dari pencegahan kanker.
Deteksi dini tidak kalah penting. Beberapa kanker mempunyai peluang keberhasilan pengobatan yang jauh lebih baik apabila ditemukan pada stadium awal. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti program skrining yang memang direkomendasikan berdasarkan usia dan faktor risiko, bukan melakukan seluruh pemeriksaan kanker secara sembarangan.
WHO menekankan bahwa kanker bukan sekadar masalah medis. Survei terhadap orang yang terdampak kanker menunjukkan bahwa setidaknya 45% mengalami kesulitan finansial, lebih dari separuh melaporkan masalah kesehatan mental, dan hampir seluruh caregiver mengalami berbagai bentuk beban, termasuk pekerjaan perawatan tanpa bayaran dan isolasi sosial.
Karena itulah pelayanan kanker modern seharusnya tidak hanya berfokus pada menghilangkan tumor. Pasien juga membutuhkan dukungan psikologis, nutrisi, rehabilitasi, pengendalian nyeri, perawatan paliatif bila diperlukan, serta dukungan terhadap keluarganya.
Peringatan WHO mengenai 2050 seharusnya tidak dipandang sebagai ramalan yang pasti terjadi. Proyeksi tersebut justru menunjukkan besarnya masalah apabila dunia tidak bertindak.
WHO mendorong negara-negara memperkuat pencegahan kanker, pengendalian tembakau, vaksinasi, deteksi dini, akses terhadap diagnosis dan pengobatan, serta memasukkan pelayanan kanker ke dalam sistem jaminan kesehatan yang lebih luas. Pendekatan juga perlu semakin berpusat pada pasien dan keluarga, bukan hanya penyakitnya.
Pesannya sederhana: kita tidak perlu menunggu sampai 2050 untuk bertindak.
Kanker memang tidak selalu dapat dicegah. Tetapi banyak faktor risikonya dapat dikurangi, sejumlah kanker dapat ditemukan lebih dini, dan semakin banyak pasien dapat diselamatkan apabila mendapatkan diagnosis serta terapi yang tepat pada waktunya.
Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan seberapa besar beban kanker yang harus dihadapi generasi berikutnya.
Sumber utama: WHO Global Status Report on Cancer 2026 dan WHO News Release, 8 Juli 2026.