Kanker esofagus stadium lanjut masih menjadi tantangan besar dalam pengobatan kanker. Namun, perkembangan imunoterapi mulai mengubah harapan pasien. Follow-up selama 5 tahun dari studi CheckMate 648 menunjukkan bahwa manfaat terapi berbasis nivolumab dapat bertahan dalam jangka panjang.
Kanker esofagus adalah keganasan yang berkembang pada saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Salah satu jenis yang paling sering ditemukan adalah esophageal squamous cell carcinoma (ESCC) atau karsinoma sel skuamosa esofagus.
Pada penyakit yang sudah tidak dapat dioperasi, berulang, atau telah menyebar ke organ lain, tujuan pengobatan adalah mengendalikan penyakit, memperpanjang kelangsungan hidup, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.
Selama bertahun-tahun, kemoterapi menjadi salah satu terapi utama. Kini, imunoterapi memberikan pilihan tambahan dengan cara membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker.
Nivolumab dan ipilimumab merupakan dua obat imunoterapi yang bekerja pada “rem” sistem kekebalan tubuh yang berbeda.
Nivolumab menghambat PD-1, yaitu salah satu mekanisme yang dapat digunakan sel kanker untuk menekan aktivitas sel T. Sementara itu, ipilimumab menghambat CTLA-4, sehingga membantu meningkatkan aktivasi dan proliferasi sel T.
Karena bekerja melalui jalur yang berbeda, kombinasi nivolumab dan ipilimumab diharapkan menghasilkan aktivasi respons imun antitumor yang saling melengkapi.
CheckMate 648 merupakan penelitian fase III berskala global yang melibatkan 970 pasien dengan ESCC stadium lanjut, rekuren, atau metastatik yang sebelumnya belum mendapatkan terapi sistemik untuk penyakit lanjut.
Pasien dibagi menjadi tiga kelompok:
Kemoterapi yang digunakan adalah fluorourasil dan cisplatin. Pada analisis terbaru, median waktu follow-up telah mencapai 71,5 bulan, sehingga memberikan gambaran mengenai efektivitas terapi dalam jangka panjang.
Pada pasien dengan ekspresi PD-L1 sel tumor ≥1%, median overall survival (OS) mencapai 15,0 bulan dengan nivolumab + kemoterapi, dibandingkan 9,1 bulan dengan kemoterapi saja.
Yang lebih menarik adalah keberadaan pasien yang bertahan hidup dalam jangka panjang:
12% pasien masih hidup pada tahun ke-5, dibandingkan hanya 7% pada kelompok kemoterapi.
Pada seluruh populasi penelitian, angka kelangsungan hidup 5 tahun masing-masing adalah 13% vs 9%.
Hasil jangka panjang yang menarik juga terlihat pada kombinasi dua imunoterapi.
Pada pasien dengan PD-L1 sel tumor ≥1%:
18% pasien masih hidup setelah 5 tahun, dibandingkan 7% dengan kemoterapi saja.
Median OS adalah 13,1 bulan dengan nivolumab + ipilimumab dibandingkan 9,1 bulan dengan kemoterapi.
Dengan kata lain, meskipun median survival masih dihitung dalam hitungan bulan, terdapat sebagian pasien yang memperoleh manfaat imunoterapi dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Salah satu temuan penting adalah bahwa kombinasi nivolumab + ipilimumab tidak memperbaiki median progression-free survival (PFS) dibandingkan kemoterapi.
Pada kelompok PD-L1 ≥1%, median PFS adalah:
Nivolumab + ipilimumab: 4,0 bulan
Kemoterapi: 4,4 bulan
Namun, setelah sekitar 6,5 bulan, kurva PFS mulai berpisah dan kemudian menunjukkan keuntungan jangka panjang pada kelompok imunoterapi. Pada tahun ke-5, 9% pasien yang mendapat nivolumab + ipilimumab masih bebas progresi, sedangkan pada kelompok kemoterapi angkanya 0%.
Hal ini menggambarkan salah satu karakteristik penting imunoterapi: manfaatnya pada sebagian pasien dapat muncul lebih lambat tetapi kemudian bertahan lama.
Pada pasien PD-L1 ≥1%, nivolumab + ipilimumab menghasilkan objective response rate (ORR) sebesar 35%, dibandingkan 20% dengan kemoterapi.
Durasi respons median juga hampir dua kali lebih panjang:
11,8 bulan vs 5,7 bulan.
Bahkan pada seluruh populasi yang memberikan respons terhadap terapi, 17% pasien yang mendapat nivolumab + ipilimumab mempertahankan respons setidaknya selama 60 bulan, dibandingkan hanya 3% pada kelompok kemoterapi.
Ya. Manfaat survival terbesar dari kedua regimen berbasis nivolumab ditemukan pada pasien dengan ekspresi PD-L1 sel tumor ≥1%.
Pada kombinasi nivolumab + ipilimumab, analisis menggunakan Combined Positive Score (CPS) juga menunjukkan kecenderungan bahwa manfaat survival semakin besar pada nilai CPS yang lebih tinggi.
Karena itu, pemeriksaan biomarker seperti PD-L1 dapat menjadi bagian penting dalam pertimbangan pemilihan terapi pasien kanker esofagus stadium lanjut.
Imunoterapi bukan berarti bebas efek samping.
Efek samping terkait terapi derajat 3–4 terjadi pada:
Pada nivolumab + kemoterapi, efek samping yang sering dilaporkan antara lain mual, penurunan nafsu makan, dan stomatitis. Sementara pada nivolumab + ipilimumab, efek samping yang sering ditemukan meliputi ruam, gatal, dan hipotiroidisme.
Yang penting, setelah follow-up jangka panjang tidak ditemukan sinyal keamanan baru yang sebelumnya tidak diketahui.
Hasil follow-up 5 tahun CheckMate 648 menunjukkan sebuah perubahan penting dalam pengobatan ESCC stadium lanjut.
Pada pasien dengan PD-L1 ≥1%, angka kelangsungan hidup 5 tahun adalah 12% dengan nivolumab + kemoterapi, 18% dengan nivolumab + ipilimumab, dan 7% dengan kemoterapi saja.
Artinya, imunoterapi tidak bekerja pada semua pasien, tetapi pada sebagian pasien yang memberikan respons, manfaatnya dapat bertahan selama bertahun-tahun.
Temuan ini memperkuat peran terapi berbasis nivolumab sebagai salah satu pilihan terapi lini pertama pada ESCC stadium lanjut.
Pesan penting: pemilihan terapi kanker esofagus harus dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan kondisi pasien, karakteristik tumor, biomarker seperti PD-L1, manfaat yang diharapkan, serta potensi efek samping.
Materi ini ditujukan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi serta keputusan terapi bersama dokter yang merawat.