"Saya sembuh dari kanker, tapi baru tahu belakangan kalau saya mungkin sulit memiliki anak."
Kalimat seperti ini ternyata masih sering terjadi.
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa hampir 1 dari 3 pasien kanker yang didiagnosis sebelum usia 50 tahun tidak pernah diberi tahu bahwa pengobatan kanker dapat memengaruhi kesuburan mereka.
Beberapa terapi kanker, seperti kemoterapi, radioterapi, maupun operasi tertentu, dapat merusak sel telur, sperma, atau organ reproduksi. Dampaknya bisa bersifat sementara, tetapi pada sebagian orang dapat menjadi permanen sehingga menyulitkan untuk memiliki anak di masa depan.
Namun, tidak semua jenis terapi memiliki risiko yang sama. Besarnya risiko bergantung pada:
Karena itu, setiap pasien memerlukan penjelasan yang disesuaikan dengan kondisinya.
Penelitian yang melibatkan 636 pasien kanker berusia 18–49 tahun menemukan bahwa:
Temuan ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kesuburan belum menjadi bagian rutin dalam perawatan semua pasien kanker usia reproduktif.
Saat seseorang baru didiagnosis kanker, fokus utama tentu adalah menyelamatkan nyawa. Namun, bagi banyak pasien muda, kesempatan untuk memiliki anak di masa depan juga merupakan bagian penting dari kualitas hidup.
Yang perlu diketahui adalah bahwa upaya menjaga kesuburan harus dilakukan sebelum terapi kanker dimulai. Setelah pengobatan berjalan, beberapa pilihan mungkin sudah tidak dapat dilakukan lagi.
Tergantung kondisi pasien, dokter dapat mempertimbangkan beberapa pilihan, antara lain:
Untuk pria
Untuk wanita
Tidak semua pasien memerlukan tindakan tersebut, tetapi setiap pasien sebaiknya mengetahui bahwa pilihan ini ada.
Jika Anda atau anggota keluarga didiagnosis kanker dan masih berada pada usia reproduktif, jangan ragu untuk bertanya kepada dokter:
Semakin dini pertanyaan ini diajukan, semakin banyak pilihan yang masih dapat dipertimbangkan.