Kawan Sehat pasti sering mendengar bahwa puasa mampu memberi efek positif bagi tubuh. Namun, bagaimana efeknya dengan kanker? Yuk kita bahas bersama!
Saat tubuh berpuasa, baik itu dalam beberapa jam hingga beberapa hari, terjadi perubahan hormon dan metabolisme: kadar glukosa dan insulin turun, tubuh mengurangi sinyal pertumbuhan (mis. IGF-1), dan mulai menggunakan lemak/keton sebagai bahan bakar. Teori utama menyatakan dua hal:
1. Proteksi sel sehat: sel normal beradaptasi ke keadaan “hemat” sehingga menjadi lebih tahan terhadap stres kimia obat—fenomena yang disebut differential stress resistance.
2. Kerentanan sel kanker: beberapa sel kanker yang bergantung pada glukosa dan jalur pertumbuhan tetap aktif sehingga menjadi lebih rentan terhadap kemoterapi atau radiasi.
Beberapa uji klinis fase awal dan studi observasional melaporkan bahwa puasa pendek di antara siklus kemoterapi dapat mengurangi efek samping (mis. mual, kelelahan) dan kadang meningkatkan kualitas hidup tanpa menambah komplikasi serius pada kelompok pasien terpilih. Namun ukuran studi yang kecil dan desain studi yang belum seragam (lama puasa berbeda, jenis kanker berbeda, kombinasi dengan "fasting-mimicking diets" yang mengandung sedikit kalori) membuat penarikan Kesimpulan umum menjadi lebih sulit. Diperlukan penelitian skala besar untuk menilai manfaat nyata pada kelangsungan hidup atau kontrol tumor. Oleh karena itu, sebagian besar pedoman klinis belum merekomendasikan puasa rutin sebagai bagian standar terapi kanker.
Walaupun ada dampak positif yang bisa diambil dari berpuasa, tetapi pasien dengan kondisi berikut sebaiknya tidak berpuasa atau harus dipantau ketat oleh tim medis dan ahli gizi klinis:
• Pasien yang sudah mengalami malnutrisi. Puasa dapat memperburuk status gizi dan fungsi organ.
• Anak-anak dan remaja dengan kanker, karena kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan.
• Ibu hamil atau menyusui.
• Orang lanjut usia yang mudah kehilangan massa otot dan energi.
• Pasien dengan diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula, karena adanya risiko hipoglikemia.
• Pasien dengan penyakit jantung berat, gangguan elektrolit, atau kondisi medis lain yang membuat perubahan asupan makan berisiko.
• Pasien dalam perawatan paliatif yang tujuan utamanya kenyamanan dan mempertahankan status gizi.
Jadi, gimana baiknya para pejuang kanker berpuasa?
• Jangan memulai puasa sendiri tanpa diskusi dengan tim onkologi anda. Keputusan harus berdasarkan tipe dan stadium kanker, status gizi, jenis pengobatan (mis. kemoterapi, imunoterapi), dan kondisi medis lain.
• Bila tim medis mempertimbangkan puasa atau "diet yang menyerupai puasa", lakukan pemantauan berat badan, pemeriksaan laboratorium (mis. glukosa, elektrolit), dan penilaian fungsi klinis secara berkala.
• Alternatif yang lebih aman untuk pasien berisiko adalah modifikasi pola makan sehat yang mendukung kebutuhan energi dan protein, atau intervensi nutrisi medis (mis. suplemen, enteral/parenteral bila perlu) sesuai pedoman nutrisi onkologi.
• Hindari puasa ekstrem yang menjurus ke kelaparan berkepanjangan atau penggunaan suplemen atau obat "detox" tanpa bukti; beberapa praktik tersebut dapat berbahaya atau berinteraksi dengan terapi kanker
Sumber:
1. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8190229
2. https://link.springer.com/article/10.1186/s13046-019-1189-9
3. https://www.mdpi.com/2072-6643/15/12/2666